Cyrus The Great
October 7, 2008 | In: Great People

Cyrus The Great
Cyrus II (580-529 SM), Raja Persia pertama dari dinasti Achaemenid, Pendiri Kerajaan Persia dengan mempersatukan dua suku bangsa besar Iranian: Media dan Persia dan menjadikan kedua suku tersebut sebagai pejabat dan bangsawan di kerajaan yang dia pimpin.
Setelah mempersatukan bangsa Media dan Persia dan menjadi raja sekitar tahun 558 SM, ekspedisi militernya diawali dengan kampanye menuju arah barat sampai ke kerajaan Lidya, kisah kemurahan hatinya dengan mengampuni Raja Lidya Croesus yang ditaklukan sekitar tahun 546 SM diceritakan oleh sejarahwan Yunani Herodotus dan Xenophon, setelah dia berhasil menaklukan seluruh wilayah Asia Minor, Hyrchania dan Parthia. Ekspedisinya dilanjutkan ke arah timur dan dia berhasil memperluas kerajaannya sampai keperbatasan India. Setelah menyebrang sungai Oxus dia membangun benteng pertahanan untuk melindungi kerajaannya dari serangan bangsa nomad dari wilayah Asia Tengah. Keberhasilannya tersebut memberikan keyakinan baginya untuk menaklukan Babylonia dan Mesir.
Penaklukan Babylonia sekitar tahun 539 SM menjadikan Cyrus sebagai pemimpin yang agung, dia dikenang bukan sebagai penakluk melainkan sebagai pembebas dan suksesor yang legitimate untuk menyandang gelar Raja Babylonia, dia membebaskan 40,000 tawanan bangsa Yahudi dan mengijinkannya untuk kembali ke Palestina, selain itu dia juga menghapuskan perbudakan yang merupakan kebijakan raja yang sangat humanis dan revolusioner yang belum pernah terjadi sebelumnya, saat itu pula dia mendeklarasikan hak-hak warga negaranya yang diabadikan dalam sebuah silinder yang kemudian deklarasi tersebut diakui oleh PBB sebagai deklarasikan hak-hak asasi manusia yang pertama di dunia.

Cyrus adalah satu dari sedikit manusia yang pantas mendapat gelar Yang Agung (The Great), dia berhasil menjadikan Persia sebagai Imperium terluas dan terkuat yang pernah ada di muka bumi, dia merupakan raja yang sangat berbeda dari raja-raja besar lain baik yang berkuasa sebelum maupun sesudah zamannya.
Orang-orang Persia menyebutnya sebagai “bapak bangsa”
Bangsa-bangsa yang ditaklukannya menyebutnya sebagai “law-giver”
Sejarahwan Yunani (Xenophon) menyebutnya sebagai “model raja dan pemimpin ideal”
Bible menyebutnya sebagai “liberator bangsa Yahudi”
Orang-orang Yahudi menyebutnya sebagai “raja pilihan Tuhan”.
Cyrus merupakan Raja pertama yang memperkenalkan sistem administrasi, legislasi dan aktifitas budaya kerajaan modern dengan sistem provinsi, dia juga dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan postal system.
Cyrus wafat pada saat memimpin ekspedisi militer melawan suku Massagetae sebelum dia merealisasikan cita-citanya untuk memasukan Mesir kedalam Imperium Persia. Mesir akhirnya menjadi provinsi (satrapy) dari Imperium Persia setelah ditaklukan oleh puteranya Cambyses II sekitar tahun 525 SM, Imperium Persia bertambah luas setelah Darius The Great (522-486 SM) menambahkan Punjab dan Thrace kedalamnya, kejayaan Imperium Persia terus bertahan selama hampir dua abad sampai akhirnya ditaklukan oleh Alexander The Great pada tahun 331 SM.
Cyrus adalah seorang raja yang paling banyak disebutkan kebaikannya di dalam Bible, dia juga merupakan salah satu raja yang disimbolkan didalam kitab Daniel bab 8 ayat 20 translasi bahasa Arab sebagai Dzulqarnayn (domba jantan bertanduk dua), beberapa tafsir menyebutkan kedua tanduk tersebut adalah Cyrus The Great dan Darius The Great.
![]()
Domba jantan yang kau lihat itu, dengan kedua tanduknya (Dzulqarnayn), adalah raja-raja orang Media dan Persia
Untuk melihat versi lengkap Kitab Daniel Bab 8 Ayat 1 – 21, silakan klik disini
Cyrus adalah salah seorang raja di dunia yang memenuhi syarat untuk dianggap sebagai Dzulqarnayn yang disebutkan di dalam kitab suci Al Qur’an Surah Al Kahfi ayat 83-98.
Imperium Persia sekitar 500 SM


39 Responses to Cyrus The Great
Dwiyanto P
February 10th, 2009 at 7:18 AM
Ass.wr.wb.
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, washalatu wassalamu ‘ala asyrafil ambiya wa mursalin, sayyidina Muhammad….. dst.
Nama saya Dwiyanto, pengamat sejarah Islam.
Alhamdulillah, saya sangat senang dengan banyaknya kaum muslimin yang membahas sejarah Islam seperti artikel disini……..
Saya saat ini sudah mencapai keyakinan 99% bahwasanya Dzulqarnayn itu memang Kuresh (Cyrus) II tthe Great, setelah menyimpulkan analisis bahwasanya Nama Raja Persia Kuresh (Cyrus) itu diadopsi oleh bangsa ‘Arab jahiliyah menjadi nama suku bangsa paling utama diantara mereka yang disebut “Quraisy” atau Quraish (bhs.Inggris). Dengan demikian jawaban siapakah “Dzulqarnayn” dalam surah 18 Al Kahfi ada di surah 106 “Quraisy”, wallahu a’lam…..
Catatan : setelah menaklukkan kerajaan Lydia (546 SM), Raja Kuresh langsung menaklukkan India barat (“bangsa tanpa baju”, sesuai relief pada candi-candi mereka) pada 545 SM. Dan membangun tembok besi campur tembaga pada tahun 537 SM setelah penaklukan Babil (pengembalian Yahudi ke Palestina)
Wassalam,
Dwiyanto P.
Fajar Gunawan
October 1st, 2009 at 8:38 PM
Ass.wr.wb.
Kepada
Yth. Pak Dwiyanto P.
Sekilas saya pernah membaca sebuah majalah. Di majalah tersebut ada iklan sebuah buku yang mengenai keterkaitan antara Dzulkarnain dgn tembok besar cina.
Pertanyaan saya :
- Apakah mungkin yang dimaksud dengan orang-orang yang tidak mengerti sama sekali pembicaraan itu adalah raja+rakyat Dinasti ‘D’ pada saat itu, karena perbedaan bahasa ‘Dzulkarnain’ dan bahasa cina kuno pada saat itu.
- Apakah yang dimaksud dengan tembok pemisah antara kaum tersebut dengan Ya’juj wa Ma’juj itu adalah tembok cina. Karena (lupa-lupa ingat) dari pelajaran saya di SMP (bukunya sudah tdk ada) bahwa tembok cina dibangun pada masa Dinasti ‘D’ yaitu untuk menghalau dari serangan suku/kaum/pasukan yang sangat kejam pada saat itu. Dan juga dari melihat kokohnya dan masih utuhnya tembok cina mungkin tembok tersebut tidak akan hancur hingga masa dimana janji Allah tiba (kiamat). Juga dari melihat fenomenalnya tembok cina saya berfikir tembok tersebut terjadi sebagai “Rohmattum mirRobbii” sebab teknologi pada masa itu masih terbatas.
- Adakah unTold story expedisi Dzulkarnain ke daerah timur, daerah pegunungan cina.
Atas kelemahan, kekurangan, ketidak mengertian, serta kesalahan mengertian dari saya, saya meminta maaf sebesar-besarnya.
**Mohon Pencerahannya**
Terima Kasih. Wassalamualaikum wr.wb.
Fajar Gunawan
October 1st, 2009 at 8:44 PM
NB: maaf satu poin lagi:
- Saya berfikir bahwa orang yang berani membayar seorang raja (Dzulkarnain) haruslah juga seorang Raja, dalam hal ini adalah Kaisar Dinasti ‘D’ cina.
Terima kasih, mohon arahan.
Roedi gozel
February 8th, 2010 at 1:58 PM
To: Fajar Gunawan.
Yang di maksud di Al-Qur’an, tembok yg didirikan Zulkarnain bukanlah tembok cina. Karena tembol cina terbuat dari batu, sedangkan al-Qur’an menjelaskan tembok itu terbuat dari besi dan timah:
“Bawa aku blok dari besi.” Akhirnya, ketika ia telah mengisi ruang di antara dua sisi gunung curam, ia berkata, “Tiuplah (dengan bellow)” kemudian, ketika ia membuatnya (merah) sebagai api, ia berkata: “Bawalah saya, bahwa saya mungkin tuangkan di atasnya, timah cair. “
Paimo
February 21st, 2010 at 2:30 PM
Letak situs peninggalan Cyrus The Great itu di Derbent, perbatasan antara Azerbaijan, Armenia, dan Georgia. Wilayah itu dikuasai oleh raja Cyrus antara abad 6-5 SM. Nama Derbent berasal dari bahasa Persi, Darband yang artinya The Iron Gate.
Adapun orang2 Derbent berani membayar Zulkarnain adalah karena wilayah itu satu-satunya celah Caucasaus Mountain belt yang bisa dilintasi menuju laut Kaspia untuk selanjutnya menuju Eropa, disebut Caspian Gate. Dan merupakan lintasan jalur sutra dari Cina ke Eropa.
Kerajaan Derbent memanfaatkan wilayah ini untuk mengontrol jalur perdagangan yang disebut jalur sutra. Derbent dibawah kontrol Persia dari abad 5 SM – 5M. Disini banyak terdapat makam-makam kuno Persia. Oleh karena itulah, mungkin yang dimaksud “membayar” kepada raja Cyrus adalah bersedia tunduk dibawah Persia dan mereka juga bersedia membayar pajak ketika melintasi celah ini asal keamanan mereka dijamin.
Abad ke-5 M, Persia juga membangun Benteng pertahanan di dekat lokasi The Iron Gate yang panjangnya 40 km dilengkapi dengan 10 Menara Pengawas. Benteng ini berguna untuk mengontrol wilayah Kaspia dan sekitarnya. Mungkin peruntukan lainnya juga mengawasi Pintu besi Yakjuj Makjuj.
Sayangnya, di internet hanya ada satu foto dokumentasi celah Yakjuj Makjuj, itupun tidak memperlihatkan gerbangnya. Selebihnya adalah foto-foto Benteng Pertahanan Derbent.
Ifran rampadio
March 21st, 2010 at 10:04 AM
Subhanallah. Maha suci Allah dari segala perasangka hambaNya. saya setuju bahwa dhulqarnayn the great adalah the cyrus (kurosh)/Quraish yang difirmankn Allah dalm surat Al Kahfi seperti dikemukakan rekan-rekan diatas.
Kini makin terbuka hati dan pikiran kita kaum muslimin yang diberikan petunjuk oleh allah SWT, bahwa alqur’an adalah penyempurna dari segala kitab Tuhan terdahulu.
Saya pernah membaca sebuah artikel bahwa zurriyat daripada Cyrus the Great telah sampai ke nusantara, hal ini diperkuat dengan penemuan hikayat melayu yang menceritakan bahwa turunan dari bangaswan melayu yang mendirikan kerjajaa melayu di nusantara adalah keturunan dari iskandr dhulqarnayn (the cyrus the great) dab saya yakin 100% bahwa kita adalah bangsa melayu adalah bangsa yang akan mengungkap akhir zaman dimana apa yang selama ini ditutupi akan terungkap sendirinya di tangan kita bangsa melayu termasuk keberdaan imam mahdi
Dwiyanto P.
April 30th, 2010 at 8:15 AM
Ass.wr.wb.
Kepada Sdr. Fajar Gunawan
Pertama kali, saya mohon maaf tidak merespons segera pertanyaan anda, maklum internetannya numpang di kantor dan lupa juga dengan situs ini…..
Saya rasa jawaban rekan-rekan lain diatas sudah cukup baik.
Saya tambahkan lagi bahwasanya :
- Pada umumnya yang diceritakan dalam al Quran adalah wilayah “sekitar Timur tengah” yaitu dari Meshir (Turki) di barat hingga Persia (India) di timur, jadi wilayah China itu “terlalu jauh”….
- Tembok China itu memang besar, namun pembangunannya bertahap, tidak sehebat tembok besi di Derbent tsb. yang nampaknya dibuat sekali jadi…..dan juga dibuat lebih awal (537 SM) daripada tembok China (mulai dibuat th 200an SM)
- Dzulqarnayn adalah raja yang shalih, mungkin saja dia tidak perlu dibayar untuk membangun tembok itu dan lagi wilayah tsb. adalah kekuasaan dia sehingga biaya tembok itu cukup dari pajak seluruh negeri dan yang penting lagi dari swadaya masyarakatnya (sukarela) demi keamanan dari penyerbuan bangsa liar Ya`juj wa Ma`juj !!
- Coba anda Hadits, ada beberapa pernyataan Rasulullah Saw. yang menyatakan keutamaan bangsa Persia !
Sekian dulu sementara,
Wassalam, nanti dilanjutkan lagi…
Dwiyanto P.
halim
May 30th, 2010 at 12:18 AM
menurut sdr Dwiyanto, Tembok Besi Zulqarnain itu ada di Derbent yang ada di ujung timur pegununang Kaukasus.
Tetapi berdasarkan buku yang saya baca berjudul “JEJAK YAKJUJ & MAKJUJ DLM INSKRIPSI YAHUDI” (terbit Mei thn 2010, penerbit Hikmah Mizan) halaman 119, dikatakan bahwa Tembok Derbent itu bukan terletak di antara di antara dua gunung, justru Derbent terletak di antara kaki pegunungan Kaukasus dan Laut Kaspia. jadi tembok derbent bukan tembok besi Zulqarnain. fakta material bahannya tembok derbent dibuat dari batu dan pasir, bukan besi tembaga.
halim
June 7th, 2010 at 3:35 PM
kepada: sdr Irfan
Pendapat andat bahwa Iskandar Dzulqarnain adalah Cyrus the Great, maka pendapat ini salah secara bahasa. krn kata “Iskandar” itu merujuk pada nama “Alexander” dimana pada awalnya Alexander atau Alexandros itu berasal dari nama Yunani, kemudian ketika nama itu masuk ke lidah orang Arab maka suku kata “Al” dibuang shg tinggal “exander” dibaca “Iskandar”, orang persi menyebutnya “srikandar”,. Mengapa suku kata “al” dibuang? ini krn dalam kaidah bahasa Arab, suku kata “Al” tidak boleh untuk nama diri orang (proper name), dan hanya boleh utk nama benda bukan manusia (mis: Al Baqarah, Al-Kitab), nama gelar (al mahdi, Al masih), nama tempat (al misri = mesir; Al-Quds = Yerusalem).
jadi Iskandar Zulqarnain yang disebut dalam hikayat Melayu itu merujuk pada Alexander Zulqarnain, bukan Cyrus. Jika orang Melayu mengakui Cyrus sbg Zulqarnain, maka akan ditulis “Cyrus Zulqarnain” tetapi faktanya “Iskandar/Alexander Zulqarnain”.
Zulkifli
June 19th, 2010 at 9:17 AM
Saudara Halim, kebanyakan ahli sejarah Islam menegaskan bahawa “Zulqarnain” yang disebut didalam Surah Alkahfi itu hanya gelaran dan perkataan “Iskandar” itu tidak disebut didalam surah Alkahfi dan ianya hanyalah panggilan didalam terjemahan bahasa Melayu untuk Alexander sahaja. Jadi Zulqarnain yang disebut itu adalah seorang raja yang beriman dan sifat-sifat ini tidak ada pada Alexander The Great dan hanya ada pada Raja Cyrus. Saya tidak mengatakan yang Cyrus itu adalah Zulqarnain 100% tapi apa yang kita ketahui beliau telah membebaskan orang Yahudi dari pemerintahan Babylon dan tercatit didalam Kitab “Old Testement” orang Yahudi dan juga didalam Bible orang Kristian. Dengan ini juga mengapa orang-orang Yahudi dizaman Rasullallah SAW bertanya mengenai “Zulqarnain” kepadanya untuk menguji kenabian Rasullallah SAW. Sejarah juga tidak tercatit mnengenai perjalanan Alexander The Great Keutara Caucasus.
Dr.Zulkifli
June 19th, 2010 at 9:33 AM
Seperkara lagi , “Iskandar Zulqarnain “yang disebut didalam Hikayat Melayu Mahawangsa itu adalah Alexander The Great dan bukan Zulqarnain dari Surah Alkahfi. Nama Zulqarnain dan Alexander dikaitkan adalah kerana kecetekan Ilmu pengetahuan dizaman dulu. Sebagaimana yang diperkatakan oleh Dr.Hamka, pertalian darah dari Alexander The dreat dengan Orang melayu yang ditulis oleh Tun Sri Lanang hanyalah Mitos dan kesahihannya belum dapat dibuktikan lagi.
Yan
June 21st, 2010 at 9:32 AM
To All: Bagi saya simple saja:
Kisah Dzulqarnayn ditanyakan oleh kaum kafir Arab atas petunjuk pendeta Yahudi, sebenarnya kita tidak perlu repot-repot baca buku-buku kuno berbahasa Yunanai, Romawi dsb untuk menentukan kandidat Dzulqarnayn, melainkan cukup membaca kitab yang dipegang oleh orang Yahudi di Arab pada masa itu semisal Bible.
Dalam bible berbahasa Arab ternyata hanya ada satu kata “Dzulqarnayn” yaitu didalam kitab Daniel bab 8 ayat 20 translasi bahasa Arab yang ditafsirkan sebagai Cyrus The Great dan Darius The Great.
Menurut hemat saya, daripada bersikeras memaksakan Alexander The Great sang raja Pagan sebagai Dzulqarnayn kenapa para penulis muslim tidak berupaya melakukan pendekatan kepada dua raja agung dari Persia ini yang jelas-jelas penganut agama tauhid dan jelas sekali dinyatakan sebagai Dzulqarnayn dalam bible translasi bahasa Arab “Domba jantan yang kau lihat itu, dengan kedua tanduknya (Dzulqarnayn), adalah raja-raja orang Media dan Persia” menurut beberapa tafsir mereka adalah Cyrus The Great dan Darius The Great, nah baru dalam pendekatannya kita boleh merujuk kesana kemari termasuk buku-buku kuno Yunani, Romawi, Yahudi dsb.
Semoga tidak terjadi kesimpangsiuran pemikiran yang berlebihan dari para penulis muslim yang merujuk kesana-kemari menjauhi Qur’an, Hadist dan Bible dalam menerka-nerka siapa sebenarnya Dzulqarnayn yang akhirnya malah menjadi olok-olokan kaum kafir dan Yahudi.
halim
June 22nd, 2010 at 3:18 AM
sememangnya tokoh zulqarnain ini telah dikenal oleh bangsa Yahudi. di dalam kitab yahudi bible kitab para nabi, yaitu nabi Daniel memang disebutkan tentang “domba jantan bertanduk dua” istilah ini berbeda dengan apa yang disebut Quran “zulqarnain” (pemilik dua tanduk).
Dari buku yang baru saya baca judulnya “ALEXANDER ADALAH ZULQARNAIN” karya Muhammad Alexander (@ Wisnu Sasongko) dikatakan bahwa tokoh zulqarnain ini memang sudah dikenal dan berjasa bagi bangsa yahudi israel, sehingga pendeta yahudi bertanya kepada Rasulullah nabi Muhammad saw, “jika Muhammad mengetahui kisa lelaki pengembara timur (masrik) dan b arat (maghrib), maka Muhammad benar-benar nabi yang diutus”.
dan ternyata ada dua raja yang berjasa kepada Yahudi, yaitu Raja Persia Cyrus the Great (560-530 SM), dan Alexander the Great (356-323 SM).
Cyrus berjasa mengembalikan orang yahudi buangan di Babilon Iraq utk kembali ke Kuil Yerusalem. dengan peristiwa inilah maka orang yahudi dalam kitabnya menyebut cyrus sebagai Mesias.
Menurut Wisnu Sasongko dalam bukunya itu, dikatakan bahwa Alexander tidak disbt secara langsung dalam bible yahudi krn masa hidup alexander (356-323 SM) adalah masa dimana tdk ada nabi bani israel shg nama alexander tidak disebut dalam bible. ini karena kitab bible hanya sampai pada nabi Daniel yng hidup satu masa dengan cyrus the great, hingga nabi Ezra (uzair) yg hafal taurat dan menulis kembali taurat pd thn 450 SM. masa hidup Ezra ini adalah jauh setelah cyrus meninggal dunia. shg wajar jika nama cyrus masuk ke dalam bible.
sementara itu alexander masa hidupnya adalah setelah daniel dan ezra, shg tidak disebut dalam kitab bible.
tetapi harus diingat nama alexander ada juga dalam Inskripsi yahudi yang lain, yaitu pada kitab Talmud dan kitab karya flavius josephus ( 80 M), yg mengisahkan Alexander memasuki yerusalem dengan damai dan menghormati pendeta yahudi serta mengajak para pemuda yahudi utk ikut bergabung dalam pasukan yunani menaklukkan mesir dan persia (lihat buku alexander adalah zulqarnain hlaman 209-259).
Josephus adalah sarjana yunani-romawi berdarah yahudi dan beragama yahudi, yang hidup sekitar tahun 40-110 M.
jadi baik cyrus maupun alexander, maka kedua raja ini sangat dikenal oleh bangsa yahudi. keduanya berjasa pada orang yahudi.
halim
June 22nd, 2010 at 3:23 AM
Untuk sdar Dr. Zulkifli:
terimakasih atas tanggapan anda. semoga dalam pencarian kita ini atas figur Zulqarnai Qur’anik akan menjadi amal sholeh bagi kita semua. karena mengkaji ayat qur’an adalah ibadah yg bernilai tinggi.
menanggapi pendapat anda di atas, saya syurkan anda membaca buku yang terbit di Malaysia bulan Mei 2010, tajuknya: “ALEXANDER ADALAH ZULQARNAIN” dlm buku itu ada jawaban thd soalan anda di atas. selamat membaca
halim
June 22nd, 2010 at 3:32 AM
utk sdr Zulkifli dan Yan:
Marilah kita berhati-hati dalam meletakkan tuduhan “kafir” atau “pagan” kepada tokoh-tokoh sejarah, jika belum terbukti secara jelas, termasuk menuduh kafir pada diri Alexander the Great. bagaimana halnya jika ternyata Alexander putra Philips dari makedonia ini ternyata orang mukmin/beriman monoteistik?
Kalau boleh tahu dari mana / dari sumber apa anda menuduh Alexander the Great adalah kafir? pnyembah berhala? tolong sebutkan sumbernya, kemudian mari kita telusuri bersama kebenaran sumber itu.
Yan
June 22nd, 2010 at 9:00 AM
To Mas Halim:
Tentang Dzulqarnayn dalam Al-Qur’an dan Kitab Daniel asal kata dan arti katanya adalah sama (coba baca lagi Qur’an dan Kitab Daniel dalam bahasa Arab yang saya kutip), yang dalam bahasa Ibrani-nya adalah Ba`al Haqqaranayim (saya kutip dari wikipedia).
Tentang Alexander The Great pagan; Saya ambil satu buku “Alexander The Great in Fact and Fiction – Oxford University Press, published 2000. ISBN 0-19-815287-6″
“Diodorus also reports that Alexander threw his spear into the beach and declared that he accepted Asia from the gods as spear won territory. As soon as he crossed he proceeded to Troy, where he sacrificed in the temple of Athena…” (p.109)
“After his conquest of Egypt , Alexander consulted the oracle of Zeus Ammon…” (p.111)
“The list of gods were the Graeco-Macedonian gods to whom it was Alexander’s, and ancestral, customs to sacrifice (lihat catatan kaki)… Alexander issued his new “imperial coinage”, on which he featured Zeus, Athena, and Heracles apparently as patrons gods of the war, at the Hellespoint he inaugurated the war by dedicating on both sides of the straits altars to these same gods” (p.144)
“After his return from India in 324, Alexander issued a commemorative decadrachm which featured on the observe of full length portrait of Alexander in full armour wielding a thunderbolt, with a winged Nike (Greek goddess who personifies victory) above him about to place a victory wreath on his head. The thunderbolt identified Alexander as son of Zeus, in accord with revelation of Zeus Ammon in 331″ (p.175)
Serta masih banyak kalimat-kalimat yang bertemakan do’a, pengorbanan serta penghancuran atas nama Zeus, Dionysus dll yang tidak mungkin saya kutip semua dalam kesempatan ini.
By the way, adakah bukti nyata yang menunjukan bahwa Alexander the Great adalah seorang raja monotheist?
Seperti halnya Cyrus yang dinyatakan sebagai raja tauhid di Bible (Chronicle & Ezra) dan dianggap sebagai raja monotheist Persia pertama di wikipedia (the first Zoroastrian Persian emperor)?
Atau Inscription Darius The Great di Naqshe Rostam yang menggambarkan bahwa dia adalah seorang raja monotheist yang soleh
“(I) A great god is Ahuramazda, who created this earth, who created yonder sky, who created man, who created happiness for man, who made Darius king, one king of many, one lord of many. (II) I am Darius the Great King, King of Kings, King of countries containing all kinds of men, King in this great earth far and wide, son of Hystaspes, an Achaemenian, a Persian, son of a Persian, an Aryan, having Aryan lineage…..” dan Darius juga merupakan salah satu Raja Persia yang dicatat keberadaannya di dalam bible Ezra.
Kalimat yang anda kutip: “Alexander memasuki yerusalem dengan damai dan menghormati pendeta yahudi serta mengajak para pemuda yahudi utk ikut bergabung dalam pasukan yunani menaklukkan mesir dan persia (lihat buku alexander adalah zulqarnain hlaman 209-259)” TIDAK menunjukan apapun dalam masalah keagamaan Alexander The Great.
halim
June 23rd, 2010 at 9:02 PM
kepada sodara Yan:
Mengapa anda menelan bulat-bulat buku karya orang barat yg beragama paganisme/kekafiran itu, yg menyebutkan bahwa alexander sbg dewa, anak dewa-dewa dsb? Di sinilah masalah anda dan beberapa penulis yg lain, yg mengangap alexander sbg kafir shg tdk pantas disebut zulqarnain, yaitu menelan bulat-bulat pendapat orang kafir itu ttg pribadi alexander. seharusnya, sebagai seorang muslim yang baik, kita jgn tergesa-gesa mengikutinya, kita seharus melakukan penelitian terhadap sumber-sumber itu sbgmana anjuran Qur’an ttg berita-berita yg dibawa oleh orang fasik. berikut ini pendapat Muhamamd Alexander @ Wisnu sasongko dlm buku “Alexander adlh Zulqarnain” hlm. 36:
“Bagaimana sikap kita mengenai Alexander dalam teks-teks kuno itu? Al Qur’an menganjurkan kita untuk memeriksa atau menganalisis secara ilmiah dan mendalam kebenaran sesuatu itu, kemudian mengambil kesimpulan dan tindakan yang benar dan santun.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al Qur’an surat Al Hujuraat 49:16) –
Terhadap tulisan orang-orang kafir Yunani-Romawi Kuno dan barat Modern tentang sejarah Alexander Macedonia ini, maka sikap kita adalah harus memeriksa dengan teliti/sungguh-sungguh berita-berita yang mereka bawa. Kemudian, berita-berita yang sesuai/didukung dengan bukti-bukti yang jelas, maka berita itu dapat kita percaya. Tetapi apabila berita-berita itu tidak ada bukti yang jelas, bahkan penuh dengan mitos paganisme, maka berita itu kita buang. Dengan metode seperti inilah maka kita bisa menyelamatkan sejarah dan peradaban. Kita sebagai seorang Muslim hendaklah bersikap seperti lebah madu, kemanapun dan apapun bunga yang didatangi lebah, maka hanya kebaikan saja yang diambil oleh lebah itu, yaitu madu. Hal-hal yang buruk tidak diambil oleh lebah itu.”
Wisnu sasongko juga membuat kias/ analogi bahwa nasib alexander the great (356-323 SM) ini sama dengan nasib Nabi ISa as, beliau berdua telah dipertuhankan oleh para penulis sejarah berkembangsaan Yunani-Roman. apakah jika orng barat kuno (yunani roman) dan barat modern (amerika dan eropa) berpendapat bahwa Nabi ISa ato Yesus itu anak tuhan bahkan tuhan itu sendiri, dan layak disembah, maka apakah anda juga akan menelan bulat-bulat teori salah ini smpai akhirnya Isa /Yesus tidak pantas disebut sbg Nabi?
saya quote puisi karya muhammad alexander ttg masalah ini dari web site lain:
judul: “ISA & ISKANDAR”
Ada dua ruh mukmin yang sedih hatI
kecewa dan menangiS
karena mereka disembah ‘umat’-nyA
Dia adalah Isa al-Masih nabI
dan Raja Iskandar murid AristotleS
Ketika orang-orang jahil berteriaK
bernyanyi dan memuja-mujA
Tibalah waktunya turun Qur’aN
kepada insan kamil MuhammaD
membersihkan nama mereka berduA
Isa dengan namanya, Iskandar dengan gelaR
Oleh: Muhammad Alexander (wisnu sasongko)
(baca huruf akhir dari setiap bait itu, terbentuk tulisan “ISA ISKANDAR” )
Alexander juga tidak pernah mengatakan dirinya sbg tuhan/dewa, sy quote dari buku Alexander adalah Zulqarnain hlaman51-52:
“Plutarch (120 M) dalam tulisannya menyebutkan suatu peristiwa tentang datangnya suara petir yang sangat dahsyat/keras, kemudian seseorang yang bernama Anaxarchus seorang Sophist berkata kepada Alexander: ”bukankah engkau putra Zeus, suara petir itu saksinya”. Mendengar hal ini, Alexander segera menjawab, ”bukan, Aku bukan seperti yang kaukatakan. Aku tidak ingin menjadi sesuatu (dewa/tuhan) yang ditakuti oleh teman-temanku.” Berikut seperti yang disebutkan Plutarch:
“Suatu kali juga, di sana datang suatu gemuruh/ suara keras dari petir, dan semua ketakutan pada suara itu; lalu sesudah itu Anaxarchus seorang sophist yang kemudian mengatakan kepada Alexander: “benarkah engkau, putra dari Zeus, guntur (suara petir) membuktikan hal itu?” atas hal ini, Alexander tertawa dan berkata: “Tidak, aku tidak ingin menyebabkan ketakutan di dalam para temanku, …” (Plutarch 28.4)
Ini semua menunjukkan betapa kuatnya pengaruh monoteisme yang diajarkan oleh Aristoteles kepada Alexander dan juga kepada Philips. Inilah yang kemudian menimbulkan konflik internal di kalangan teman dekat Alexander, misalnya pada kasus Alexander yang membunuh Clitus teman dekatnya sendiri dengan menggunakan tombak/lembing pada suatu pesta di Asia Tengah. Pembunuhan ini terjadi karena Clitus memaksa Alexander agar merayakan pemujaan kepada dewa kemabukan yang disebut Dionysus (Bacchus), yaitu dewa Anggur bangsa pagan Yunani. Ini menjadikan Alexander marah dan langsung membunuh Clitus (baca bab 13).”
agar diskusi ini tidak meloncat-loncat, mari kita selesaikan masalah ini dulu, yaitu: “alexander the great tidak pernah mendeklasarikan dirinya sbg dewa atau putra dewa/tuhan. pendapat yg mengatakan alexander sbg dewa atau putra dewa adalah pendpt para penulis pagan/kafir Yunani-Roman dan sarjana barat yg kental dengan kekafiran”. Bagamn pendapat anda ttg maslah ini dulu?
* Sdr Yan, sumber wikipedia itu tidak bisa dijadikan sumber rujukan ilmiah, kecuali buku teksnya yg asli.
Yan
June 24th, 2010 at 9:00 AM
Mas Halim,
Pertama, buku tersebut adalah salah satu buku tentang Alexander yang saya miliki dan kenapa saya jadikan referensi dalam menjawab komentar anda? Karena buku tersebut adalah buah dari hasil simposium tentang Alexander The Great yang disponsori oleh Australia Research Council yang dilakukan di University of Newcastle Australia pada bulan Juni 1997 yang dihadiri oleh para ahli sejarah, dosen, mahasiswa dan masyarakat umum yang telah diuji secara ILMIAH dan merujuk pada lebih dari 300 literatur, yang kemudian dipublikasikan oleh Qxford Uiversity Press di New York pada tahun 2000, apakah ada buku lain yang membahas Alexander yang lebih baik, ilmiah dan lebih netral dari buku ini?
Kedua, sampai sekembalinya Alexander dari India, Alexander masih pagan dan mensimbolkan dirinya dengan pakaian besi lengkap sambil memegang petir dengan sayap dewi Nike dan bunga kemenangan dikepalanya, sambaran petir tersebut mengidentifikasikan dirinya sebagai putra Zeus, sesuai dengan wahyu yang diterimanya dari Zeus Ammon (saya kutip ulang): “After his return from India in 324, Alexander issued a commemorative decadrachm which featured on the observe of full length portrait of Alexander in full armour wielding a thunderbolt, with a winged Nike (Greek goddess who personifies victory) above him about to place a victory wreath on his head. The thunderbolt identified Alexander as son of Zeus, in accord with revelation of Zeus Ammon in 331? (p.175), kecuali jika anda bisa menunjukan bukti bahwa Alexander tidak melakukan hal ini dengan rujukan yang jelas, obyektif dan bisa dipertanggungjawabkan maka saya tidak akan menerima kutipan itu sebagai suatu kebenaran.
Ketiga, Apakah anda pernah membaca buku “The Antiquities of the Jews” karya Flavius Josephus yang menjadi rujukan Alexander Wisnu Sasongko? kalau belum sebaiknya anda cari dan bacalah lalu resapi dengan pikiran dan hati yang netral, bacalah terutama Book XI (masa Cyrus sampai kematian Alexander The Great) disana anda akan menemui hubungan spiritual dan relijius yang mesra antara Cyrus & Darius dengan nabi-nabi serta “Tuhan Bani Israil” yang TIDAK akan anda temukan pada diri Alexander The Great.
Keempat, Anda belum menjawab pertanyaan saya: “adakah bukti nyata yang menunjukan bahwa Alexander the Great adalah seorang raja monotheist? ” statement anda yang merupakan kutipan dari buku Alexander Wisnu Sasongko hanya menjelaskan bahwa “Alexander The Great tidak mengakui dirinya sebagai dewa”
Kelima, Alexander Wisnu Sasongko bukan orang suci, apalagi nabi, dan hanya melakukan study literatur dalam masalah ini manalah mungkin saya bisa mengimani analogi dia yang menyatakan Alexander seperti Nabi Isa AS (astaghfirullah).
Keenam, Wikipedia saya ambil hanya sebagai rujukan sampingan setelah Bible Chronicle & Ezra sebagai rujukan utamanya.
halim
June 24th, 2010 at 10:39 AM
kpd sadrku Yan:
Diskusi ini semakin menarik. marilah kita semua berdiri laksana para pengacara/lawyer di depan pengadilan, ada pihak yang membela dan ada pihak yang menuntut. oleh karna itu setiap fakta ato kaidah harus didiskusikan dan diambil kesepakatan dua pihak itu, apakah sepakat/setuju atao tidak. Jika suatu hal sudah sepakat maka kita lanjutkan kpd fakta-fakta lain yang belum sepakat. sehingga diskusi kita tidak terkesan meloncat-loncat tak tentu arah, shg tidak menghasilakan kesimpulan yang baik.
anda terkesan salah dalam memahami uraian saya di atas.
misal saya quote pendapat anda (Yan), anda menulis:
“Kelima, Alexander Wisnu Sasongko bukan orang suci, apalagi nabi, manalah mungkin saya bisa mengimani analogi dia yang menyatakan Alexander seperti Nabi Isa AS (astaghfirullah)”
Saya jawab:
buku karya Wisnu Sasongko itu hanya mengingatkan kita agar lebih hati2 dalam menilai tokoh-tokoh sejarah terutama berkaitan dengan agama tokoh sejarah itu, yaitu dengan cara analogi atau qias betapa paganisme penulis sejarah yunani-roman kuno telah banyak mendistorsi tokoh-tokoh sejarah. sbg contoh yg nyata adalah kisah nabi Isa atau Yesus. Nabi Isa yang mukmin telah dianggap sebagai anak tuhan, anak Allah dan bahkan dianggat tuhan itu sendiri, yaitu pada masa konsili nicea I thn 325 M, yg diprakarsai oleh Kaisar Constantinus untuk menyelesaikan pertikaian tentang Trinitas (Arianisme). dalam konsili itu hadir para intelektual teologi yunani-roman: salah satu hasilnya adalah pengakuan keimanan bahwa Yesus adalah anak Allah. sila tengok: http://www.sarapanpagi.org/konsili-nicea-vt990.html
lantas apakah kita sebagai mukmin juga ikut-ikut mempercayai hasil konsili yng dihadiri banyak intelektual itu? walaupun kesimpulan konsili itu salah? (pada masa sekarang, konsili itu sama dengan seminar/simposium)
Inilah yng coba diqiaskan dengan tokoh sejrah Alexander the great, bahwa sangat mungkin alexander ini nasibnya juga sama dengan nasib nabi Isa, yaitu sama-sama dianggap sebagi anak tuhan/dewa. tapi sayang anda sdr Yan malah membawa kepada hal yg bukan isu pokoknya, yaitu sbgmn anda tulis di atas:
“Alexander Wisnu Sasongko bukan orang suci, apalagi nabi, manalah mungkin saya bisa mengimani analogi dia yang menyatakan Alexander seperti Nabi Isa AS (astaghfirullah)”
Penulis yang bernama Wisnu sasongko memang bukan orang suci, apalagi nabi, dia hanya peneliti spt kita yng ingin mencari kebenaran sejarah. jadi anda jangan membawa kepada masalah ini. nanti diskusi menjadi bias lagi. harusnya anda jawab setuju atau tidak mengenai kaidah fakta:
“nasib alexander sama dengan nasib nabi Isa, beliau berdua sama-sama dianggap sbg anak tuhan oleh para intelektual yunani roman kuno. dan anggapan yang salah ini diwarisi hingga sekarang oleh orang-orang barat. shg menjadi kesalahan berantai hingga sekarang.”
dari statemen ini silahkan anda jawab: ya setuju, atao tidak. jika anda setuju maka kita sepakat. dan satu kesepakan pertama telah terbangun dan selanjutkan kita diskusikan fakta-fakta lainnya. jika anda jawab “tidak setuju” maka apa alasannya, dan mari kita bahas lagi dan jangan dulu membahas fakta lainnya. dgn begini maka diskusi jadi terarah dan tidak meloncat-loncat.
Yan
June 24th, 2010 at 11:14 AM
To mas halim
Sebelum saya jawab, sebaiknya saya kembalikan diskusi ini pada pokok masalahnya:
Statement anda:
“Kalau boleh tahu dari mana / dari sumber apa anda menuduh Alexander the Great adalah kafir? pnyembah berhala? tolong sebutkan sumbernya, kemudian mari kita telusuri bersama kebenaran sumber itu?”
saya sudah jawab dengan : http://yanrizal.com/?p=88&cpage=1#comment-852 disitu ada satu pertanyaan saya yang masih belum anda jawab yaitu: “adakah bukti nyata yang menunjukan bahwa Alexander the Great adalah seorang raja monotheist?” (ini pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya)
Jika anda bisa menjawab dan menjelaskan dengan bukti obyektif bahwa Alexander The Great adalah penganut Monotheist, saya bisa menyatakan “SETUJU” dengan pendapat anda tentang analogi nasib Alexander dengan nabi Isa AS, tapi jika Alexander adalah pagan saya dengan tegas menyatakan “TIDAK SETUJU” karena semua raja pagan yang sangat berkuasa dalam sejarah dunia kuno selalu mengidetifikasikan dirinya sebagai putra Jupiter, Mars, Zeus, Ra dll.
Yan
June 24th, 2010 at 5:10 PM
Tambahan, saya baru menemukan terjemahan Plutarch dalam bahasa inggris sebagai referensi kutipan anda dari buku Alexander Wisnu Sasongko yang isinya:
“Plutarch (120 M) dalam tulisannya menyebutkan suatu peristiwa tentang datangnya suara petir yang sangat dahsyat/keras, kemudian seseorang yang bernama Anaxarchus seorang Sophist berkata kepada Alexander: ”bukankah engkau putra Zeus, suara petir itu saksinya”. Mendengar hal ini, Alexander segera menjawab, ”bukan, Aku bukan seperti yang kaukatakan. Aku tidak ingin menjadi sesuatu (dewa/tuhan) yang ditakuti oleh teman-temanku.”
Ini versi bahasa inggrisnya:
And another time, when it thundered so much that everybody was afraid, and Anaxarchus, the sophist, asked him if he who was Jupiter’s son could do anything like this, “Nay,” said Alexander, laughing, “I have no desire to be formidable to my friends, as you would have me, who despised my table for being furnished with fish, and not with the heads of governors of provinces.”
Dan dilain waktu, ketika sebuah guntur membuat semua orang takut, dan Anaxarchus, seorang sofis, bertanya kepadanya apakah dia putra Jupiter yang melakukan hal seperti ini, “bukan,” kata Alexander, sambil tertawa, “Aku tidak punya keinginan untuk (membuat sesuatu) yang dahsyat/hebat (guntur) untuk (dibenci) teman-temanku, seperti kamu buat padaku, yang membenci mejaku karena dilengkapi dengan ikan, bukan dengan kepala-kepala gubernur propinsi.”
dalam hal ini Alexander tidak menyangkal dikatakan “JUPITER’S SON” melainkan dia menyangkal kalau dituduh membuat guntur.yang bisa menakuti teman-temannya.
halim
June 25th, 2010 at 10:39 PM
Sebenarnya jawaban saya di atas masing dalam koridor topik utama. mengenai monoteisme agama alexander sudah saya jawab dengan teks plutarch di atas, hanya anda berbeda dalam memahami teks plutarch itu.
saya coba kutip pendapat sdara Amir dalam forum lain:
“(sebenarnya byk terjemahan teks inggris yg berbeda-beda ttg teks plutarch di atas, salah satunya adalah yang anda sebut itu). saya berpendapat bahwa jawaban alexander “bukan” dalam konteks menolak dirinya disebut sebagai putra dewa Yupiter. Dia Alexander hanya ingin menjadi seorang yang dekat dgn teman-temannya, tidak ingin di dewakan shg terkesan menakutkan, shg teman-temannya menjauh (sungkan) dengan dia utk berhubungan. si Anaxarchus ini adalah sophist yg paganis, yg ingin mendewakan alexander, sgbman kebanyakan sophis dan penulis sejarah yunani romawi yg pagan/kafir itu.
jadi pendapat anda di atas tidak sesuai konteksnya.” (Amir)
ini menjadi salah satu bukti bahwa diri alexander tidak bersedia dianggap sebgai anak dewa yupiter. ini juga salah satu tanda sifat orang beriman, monoteisme, yaitu tidak mau dirinya dikultuskan. jika alexander ini orang kafir maka pasti dia akan menjawab “memang aku adalah dewa Yupiter/Zeus! kamu Anaxarchus dan juga semua orang harus menyembah aku!”
tetapi realitanya justru alexander menolak itu semua.
bukti lainnya saya kutip dari buku “Alexander adlh Zulqarnain” halaman 58-59 sebagai berikut:
“Orang-orang bodoh Yunani & Barat menyebut Alexander sebagai ”God” dan ”Son of God”. Plutarch (120 M) dalam bukunya yang berjudul “Moralia” menyebutkan mengenai seseorang bernama Damis yang dengan pendapatnya sendiri berkata: “We grant that if Alexander wants to be called a god, he can be.” (Kami menjamin bahwa jika Alexander menginginkan untuk dipanggil sebagai Tuhan, maka dia dapat saja). Ini merupakan contoh bahwa kepercayaan Alexander sebagai Tuhan, bukan berasal dari Alexander sendiri, tetapi muncul dari kalangan orang-orang bodoh yang tenggelam paganisme Yunani-Romawi.
Hingga sekarang, para penulis kisah Alexander masih tetap menganggap Alexander sebagai Tuhan (God) dan Anak Tuhan (Son of the God). Contohnya adalah beberapa buku di bawah ini:
Paul Doherty (2002) menulis Novel tentang Alexander dengan judul: “The Godless Man” (A book in the Mystery of Alexander the Great series). Kemudian dalam buku lainnya
Paul Doherty (2005) “Alexander the Great: The Death of a God: What – or Who – Really Killed the Young Conqueror of the Known World?” – Di dalam buku ini Paul Doherty menyebut Alexander dengan judul: “Kematian seorang Tuhan (God)”.
Alan Fildes and Joann Fletcher mengarang buku berjudul “Alexander the Great, Son of the Gods”. Buku ini dengan jelas menyebut Alexander sebagai Anak Tuhan (Son of the God).
Tulisan-tulisan orang bodoh inilah yang kemudian membuat opini yang salah, hingga mencemarkan nama baik dan iman Alexander the Great. Hal inilah yang dulu juga pernah terjadi pada diri nabi terakhir bani Israel, yaitu Isa Al Masih. Di mana setelah peristiwa penyaliban di Yerusalem, maka orang-orang bodoh dari kalangan Yahudi awam dan Yunani menyebut Isa sebagai Anak Tuhan dan Tuhan itu sendiri.
Kesalahan besar dan mendasar inilah yang kemudian menyebar ke dunia. Alexander dan juga Isa Al Masih dianggap sebagai Anak Tuhan dan juga Tuhan. Berdasarkan berita-berita yang salah inilah, maka adalah wajar bila para penulis muslim menganggap Alexander bukan Dzulqarnain karena Alexander adalah seorang kafir. Sebagaimana Sayyid Qutb, yang menganggap Alexander sebagai seorang Atheis.” (Wisnu sasongko, hlm.58-59)
bukti ketiga: menurut wisnu adalah silsilah guru alexander adalah orang beriman monoteisme: yaitu Aristotles (322 SM) > Plato (346 SM) > Socrates (399 SM). dalam masalah ini penulis buku Alexander adalah Zulqrnain itu menjelaskan scr detil (sbyak 64 halaman lengkap dg footnotenya) ttg filsafat socrates dan aristotles yg menunjukkan bhw mereka orang beriman monoteisme/ tauhid. dengna guru yang beriman ini, tentu alexander juga ikut beriman.
masih banyak lag bukti-bukti yng tersurat dan tersirat bahwa alexander the great adalah hamba Allah yg beriman tauhid monoteisme, yg skrang telah jadi korban pengkafiran oleh orng2 yg tidak cermat dalam mengkaji sejarah.
halim
June 25th, 2010 at 11:12 PM
sebelumnya saya memang pernah tulis begini:
“Kalau boleh tahu dari mana / dari sumber apa anda menuduh Alexander the Great adalah kafir? pnyembah berhala? tolong sebutkan sumbernya, kemudian mari kita telusuri bersama kebenaran sumber itu?”
kemudian anda sdr Yan menjawab dengan berbagai teks yng anda kutip dari “Alexander The Great in Fact and Fiction – Oxford University Press, published 2000. ISBN 0-19-815287-6?
“Diodorus also reports that Alexander threw his spear into the beach and declared that he accepted Asia from the gods as spear won territory. As soon as he crossed he proceeded to Troy, where he sacrificed in the temple of Athena…” (p.109)
“After his conquest of Egypt , Alexander consulted the oracle of Zeus Ammon…” (p.111)
“The list of gods were the Graeco-Macedonian gods to whom it was Alexander’s, and ancestral, customs to sacrifice (lihat catatan kaki)… Alexander issued his new “imperial coinage”, on which he featured Zeus, Athena, and Heracles apparently as patrons gods of the war, at the Hellespoint he inaugurated the war by dedicating on both sides of the straits altars to these same gods” (p.144)
“After his return from India in 324, Alexander issued a commemorative decadrachm which featured on the observe of full length portrait of Alexander in full armour wielding a thunderbolt, with a winged Nike (Greek goddess who personifies victory) above him about to place a victory wreath on his head. The thunderbolt identified Alexander as son of Zeus, in accord with revelation of Zeus Ammon in 331? (p.175)”
saya kemudian menjwab dengan mempersoalkan keabsahan kredibilitas para penulisnya yang kafir itu, shg subyektifitas kekafirannya telah menodai pribadi alexander sbgmn nabi Isa as yng telh dinodai. sementara anda sdr Yan belum menjawab hal ini (yaitu janganlah menelan bulat-bulat pendapat kaum kafir pagan itu), maka anda justru sudah meloncat ke topik lain sbgman saya kutip tulisan anda:
“adakah bukti nyata yang menunjukan bahwa Alexander the Great adalah seorang raja monotheist?” (ini pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya)” (Yan)
padahal topiknya masih seputar persoalan kebenaran dari sumber teks itu (berkaitan isi dan penuis teks).
seharusnya anda menjwab dulu pertanyaan saya ttg kredibilitas si penulis kisah sejarah alexander terutama pandangannya ttg spiritualisme alexander. dan jgn lansung menelan mentah-menatah pendpat itu. sbgman tulisan ini:
“Diodorus also reports that Alexander threw his spear into the beach and declared that he accepted Asia from the gods as spear won territory. As soon as he crossed he proceeded to Troy, where he sacrificed in the temple of Athena…” p.109)”
lihatlah dgn cermat kata “Diodorus also reports” (diodorus juga melaporkan), jelas ini pendapat diodorus sendiri, dan bukan pendapat alexander.
begitu juga teks ini: “… Alexander issued his new “imperial coinage”, on which he featured Zeus, Athena, and Heracles apparently as patrons gods of the war, at the Hellespoint he inaugurated the war by dedicating on both sides of the straits altars to these same gods” (p.144)”
coba baca teks “Alexander issued..” (alexander diisukan), jelas ini opini penulisnya, dan bukan pendapat alexander sendiri. dari sini terbukti scr jelas bahwa semua teks yang anda sebutkan itu dari buku “Alexander The Great in Fact and Fiction” adalah tidak kredibel (berkaitan dengan agama alexander).
Yan
June 28th, 2010 at 9:08 AM
Sdr. Halim, APAKAH ANDA SUDAH MEMBACA BUKU KARYA PLUTARCH TERSEBUT??? BACALAH SAUDARAKU!!! HANYA ORANG BODOH YANG MENCARI FAKTA KETAUHIDAN ALEXANDER DARI BUKU KARYA PLUTARCH ATAU FLAVIUS JOSEPHUS
APAKAH DALAM KONTEKS INI ALEXANDER WISNU SASONGO MENCANTUMKAN TEXT ASLI BAHASA LATIN ATAU INGGRIS DALAM PENGGALAN KALIMAT LENGKAP DALAM BUKUNYA TERSEBUT??? KALAU TIDAK TAPI ANDA MEMPERCAYAINYA APAKAH ITU BUKAN BUKTI FANATISME???
Tahukah anda bahwa penggalan kalimat: “After his conquest of Egypt , Alexander consulted the oracle of Zeus Ammon…” (p.111) diambil dari buku karya PLUTARCH???!!!??? dan saya kutipkan text translasi bahasa inggrisnya sbb:
“After Tyre and Gaza had been taken, Alexander went into Egypt. He founded the city of Alexandria [331 B.C.] at the mouth of the Nile, pursuant to a dream he had. His fortune-tellers predicted that Alexandria would become a great city that would feed many strangers, and so it came to pass.
Then Alexander decided to take a long journey to an oasis in the middle of a vast desert, to visit the temple of the god Ammon”
Saya tidak menemukan kalimat ““We grant that if Alexander wants to be called a god, he can be.” dalam buku “Moralia” (Ingrisnya Plutarch’s Morals), apakah anda sudah membaca buku terjemahan bahasa inggrisnya atau hanya kutip-kutip saja dari buku Wisnu Sasongko?
ALEXANDER ISSUED = Alexander Telah Menerbitkan/Mengeluarkan, BUKAN Alexander Diisukan, bagaimana mau mendapatkan kebenaran kalau menterjemahkan hal simple aja salah?
halim
June 28th, 2010 at 3:54 PM
to Yan:
Wahai sdr Yan janganlah anda cepat panas dlm berdiskusi, ini ditandai dengan simbol-simbol dalam kalimat anda itu yang sering memakai tanda seru dan tanda tanya spt ini !!!!???? justru sifat sprti ini terkesan fanatis, jumud, stagnan, tdk bersedia menerima kebenaran krn terlena dgn teori lama yg sdh usang.
Tersenyumlah, berwudlu agar tidak cepat marah. Mari kita lanjutkan dengan hati yang bening dan semangat mencari kebenaran. jadikanlah perbedaan ini rahmat buat kita.
Yan
June 28th, 2010 at 4:26 PM
Astaghfirullah, saudaraku apakah anda tidak bisa membuka mata, hati dan pikiran anda?
Saya sudah lama (sejak SD) meyakini Alexander sebagai Iskandar atau Zulqarnayn, tapi akhirnya saya sadari bahwa itu kesalahan ahli tafsir muslim yang pengetahuannya terbatas, sekarang ada orang yang anda anggap “ilmiah” dan menunjukan MONOTHEISME ALEXANDER dari buku-buku Plutarch (dengan translasi yang semaunya).
Saya harap, jangan kacaukan topik diskusi dengan tuduhan yang macam-macam, KLARIFIKASI DAN JAWAB SAJA PERTANYAANNYA! saya memang memberi penegasan dan penekanan dengan HURUF BESAR DAN TANDA SERU tapi bukan berarti saya dalam keadaan fanatis, jumud dan stagnant, melainkan saya kasihan kepada anda.
Saya belum meyakini Cyrus The Great sebagai Dzulqarnayn karena belum ada bukti ucapan Cyrus bahwa dia penganut agama Tauhid seperti halnya Darius dalam batu tulisnya, meskipun dalam Bible dan buku The Antiquities of the Jews (Flavius Josephus) jelas jelas dikatakan bahwa Cyrus adalah raja yang yang sudah diramalkan oleh nabi Isaiah sebagai “Gembala yang diurapi oleh Tuhan Bani Israil”, apalagi untuk mempercayai Alexander The Great yang jelas-jelas pagan dan tidak ada istimewanya dalam kitab agama tauhid.
Apakah anda sudah membaca buku-buku Plutarch? ada 3 judul yang terkenal “Plutarch’s Live, Plutarch’s Morals dan The Age of Alexander by Plutarch.
Tahukah anda bahwa Alexander The Great adalah orang Yunani pertama yang memerintahkan semua pasukanya untuk mencukur janggut?
“Alexander gave command to his captains that all the beards of the Macedonians should be shaved” (Plutarch – Plutarch’s Lives)
rujukan lain menunjukan bahwa Alexander The Great adalah orang yang paling bertanggung jawab atas trend laki-laki bercukur janggut (shave the face) http://www.quikshave.com/timeline.htm (lihat periode 500-400 BC
Tahukah anda bahwa memelihara janggut adalah fitrah Islamiyah yang diamalkan oleh semua nabi-nabi, rasul-rasul a.s, para sahabat dan orang-orang yang shaleh?
“Janganlah kamu menyerupai orang-orang Musyrikin, peliharalah janggut kamu.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Tahukah anda bahwa Alexander The Great setelah menaklukan Mesir pada tahun 331 SM dan mengunjungi peramal untuk membaca arti mimpinya tentang kota Alexandria kemudian dia mengunjungi kuil dewa Ammon (Jupiter) di Oasis Siwa dan bertanya pada oracle (pendeta kuil pagan yang bisa meramal atas petunjuk dewa) apakah dia bisa menaklukan dunia, dan oracle tersebut menjawab ya, kemudian Alexander The Great bergerak dan menaklukan negeri-negeri dari Mesir hingga ke India?
“After Tyre and Gaza had been taken, Alexander went into Egypt. He founded the city of Alexandria [331 B.C.] at the mouth of the Nile, pursuant to a dream he had. His fortune-tellers predicted that Alexandria would become a great city that would feed many strangers, and so it came to pass.
Then Alexander decided to take a long journey to an oasis in the middle of a vast desert, to visit the temple of the god Ammon. At the temple of Ammon, Alexander asked the oracle whether he would be allowed to conquer the world, and the oracle said yes” (Plutarch – Alexander)
Tahukah anda jika seorang muslim mendatangi peramal dan percaya kepada ucapannya maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan Allah kepada rasul-Nya?
“Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan percaya kepada ucapannya maka dia telah mengkufuri apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad SAW.” (HR Abu Dawud).
Tahukah anda bahwa Alexander lebih menyukai mejanya dihiasi oleh kepala-kepala gubernur provinsi daripada ikan yang diberikan oleh temannya?
“And another time, when it thundered so much that everybody was afraid, and Anaxarchus, the sophist, asked him if he who was Jupiter’s son could do anything like this, “Nay,” said Alexander, laughing, “I have no desire to be formidable to my friends, as you would have me, who despised my table for being furnished with fish, and not with the heads of governors of provinces.” (Plutarch – Plutarch’s Lives)
Apakah Alexander yang seperti itu yang anda yakini sebagai sosok Dzulqarnayn Qur’ani?
Sebaiknya anda belajar bahasa Inggris lebih baik lagi, agar bisa membuka mata, hati dan pikiran anda.
halim
June 29th, 2010 at 6:33 AM
Ha..ha.. ha.. terimakasi saudaraku Yan, anda sangat mengasihani saya, begitu juga saya juga mengasihani anda, tapi jangan pakai tanda-tanda baca !!!!???? segala.
oke kita lanjutkan lagi:
saya kutip pendapt anda:
“Saya belum meyakini Cyrus The Great sebagai Dzulqarnayn karena belum ada bukti ucapan Cyrus bahwa dia penganut agama Tauhid seperti halnya Darius dalam batu tulisnya, meskipun dalam Bible dan buku The Antiquities of the Jews (Flavius Josephus) jelas jelas dikatakan bahwa Cyrus adalah raja yang yang sudah diramalkan oleh nabi Isaiah sebagai “Gembala yang diurapi oleh Tuhan Bani Israil”, apalagi untuk mempercayai Alexander The Great yang jelas-jelas pagan dan tidak ada istimewanya dalam kitab agama tauhid.” (Yan)
pendapat anda ini bertentangan dengan pendapat anda sebelumnya, yg sering dengan tegas menyatakan cyrus sbg penganut tauhid, dgn menkaitkan kitab Daniel, misal saya kutip pendapat anda sebelumnya:
“Dalam bible berbahasa Arab ternyata hanya ada satu kata “Dzulqarnayn” yaitu didalam kitab Daniel bab 8 ayat 20 translasi bahasa Arab yang ditafsirkan sebagai Cyrus The Great dan Darius The Great. Menurut hemat saya, daripada bersikeras memaksakan Alexander The Great sang raja Pagan sebagai Dzulqarnayn kenapa para penulis muslim tidak berupaya melakukan pendekatan kepada dua raja agung dari Persia ini yang jelas-jelas penganut agama tauhid dan jelas sekali dinyatakan sebagai Dzulqarnayn dalam bible translasi bahasa Arab “Domba jantan yang kau lihat itu, dengan kedua tanduknya (Dzulqarnayn), adalah raja-raja orang Media dan Persia” menurut beberapa tafsir mereka adalah Cyrus The Great dan Darius The Great,..” (Yan, tgl 21 juni 2010)
lihat kalimat anda di atas: “dua raja agung dari Persia (Cyrus & DArius) ini yang jelas-jelas penganut agama tauhid” kemudian dalam komentar terbaru, anda berkata: “Saya belum meyakini Cyrus The Great sebagai Dzulqarnayn karena belum ada bukti ucapan Cyrus bahwa dia penganut agama Tauhid seperti halnya Darius dalam batu tulisnya”.
Maka bagaimana ini sdr Yan? anda sering tidak konsisten dlm setiap kalimat anda.
Yan
June 29th, 2010 at 8:32 AM
Saudaraku, apakah anda pernah membaca Hadist:
Janganlah kamu membenarkan Ahli Kitab, dan jangan pula mendustakannya dan katakanlah olehmu, “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang telah diturunkan kepada kami…(HR.Bukhari)
Berdasarkan Bible (dari ahli kitab) Cyrus The Great dan Darius The Great memang jelas dinyatakan sebagai Raja Tauhid namun secara bukti fisik (prasasti) belum ditemukan bukti ketauhidan Cyrus The Great, sedangkani bukti prasasti ketauhidan Darius The Great sudah terbukti dengan ditemukanya Inscription Darius The Great di Naqshe Rostam.
Sebagai Muslim yang merujuk hadist shahih di atas, maka saya tidak mendustakan bahwa Cyrus adalah raja tauhid tetapi saya juga belum bisa membenarkannya/meyakininya, karena memang belum dibuktikan/ditemukan prasasti yang memuat ucapan Cyrus yang berisi ketauhidannya.
Ini bukan masalah inkonsistensi, tetapi rasa kritis, ketelitian dan berusaha mengikuti jalan yang benar sesuai dengan Qur’an dan Hadist.
Bagaimana dengan anda? Terlalu banyak pertanyaan saya yang tidak anda jawab
halim
June 30th, 2010 at 5:02 PM
saya sepakat dgn pendapat anda di atas yaitu:
“rasa kritis, ketelitian dan berusaha mengikuti jalan yang benar sesuai dengan Qur’an dan Hadist.” (Yan, 29 juni 2010).
Inilah sebenarnya yang saya coba tumbuhkan pada diri anda sejak diskusi kita masa lalu, tetapi anda berputar-putar saja.
cobalah anda kritis dengan kaidah ini:
“jangan menelan bulat-bulat pendapat penulis sejarah bangsa barat kuno (yunani-romawi) mengenai agama alexander, krn memang para penulisnya sejarah itu juga beragama paganisme, shg pribadi alexander telah didistorsi oleh mereka” – bahkah saya kutipkan ayat Qur’an agar berhati-hati dlm menerima baerita dari orang fasik. begitu juga dengan berita mengenai alexander yg dianggap kafir, anak dewa. itu semua pendapt para penulis sejarah, dan bukan pendapat alexander sendiri. inilah yang harap saudara kritis dan teliti.
sbg contoh, anda sdr Yan menyebutkan tulisan plutarc:
““After Tyre and Gaza had been taken, Alexander went into Egypt. He founded the city of Alexandria [331 B.C.] at the mouth of the Nile, pursuant to a dream he had. His fortune-tellers predicted that Alexandria would become a great city that would feed many strangers, and so it came to pass.
Then Alexander decided to take a long journey to an oasis in the middle of a vast desert, to visit the temple of the god Ammon. At the temple of Ammon, Alexander asked the oracle whether he would be allowed to conquer the world, and the oracle said yes” (Plutarch – Alexander)
ini semua pendapat penulis pagan plutarc itu, bukan pendapat alexander, harusnya anda kritis dan teliti. ini semacam kasus para penulis injil yang menulis bahwa nabi Isa as di salib, ini hanya pendapat para penulis sejarah ttg nabi Isa as saja itu, dan bukan pendpat Nabi Isa as, faktanya yang disalib itu adalah orang yang diserupakan dengan wajah dan figur nabi ISa as.
jadi alexander pergi ke kuil ammon dan minta diramal itu adalah pendapat plutarc. saya setuju bahwa Alexander pergi ke kuil Ammon, negeri paling barat yang ditaklukkan alexander, tetapi apakah benar alexander pergi kesitu ingin minta diramal?
halim
June 30th, 2010 at 5:21 PM
dari kutipan tulisan plutarch itu maka dgn jelas kota yang dibina oleh alexander adalah alexandria di delta Mesir, yg sering disebut “iskandaria”. para sejarawan kuno dan modern sepakat bahwa yang memnbina bandar iskandaria di meris adalah alexander the great putra philip macedonia (356-323 SM). fakta sejrh menguatkan hal itu.
Fakta ini berdasar Hadist t yang dinukil oleh Ath-Thabari dan Muhammad bin Rabi’ Al Jizi dalam kitab Ash-Shahabah Alladziina Nazalu Mishr, dengan sanad yang terdapat di dalamnya Ibnu Lahi’ah, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada nabi SAW tentang Zulqarnain, maka beliau SAW bersabda:
“Dia Zulqarnain berasal dari Romawi. Dia diberi kekuasaan sampai ke Mesir dan mendirikan kota Iskandaria (Alexander). Ketika selesai dia didatangi oleh malaikat lalu dinaikkan. Malaikat itu berkata, ”Lihatlah apa di bawahmu”. Dia berkata, ”Aku melihat satu kota”. Malaikat berkata, ”Itu adalah bumi seluruhnya, hanya saja Allah berkehendak memperlihatkan kepadamu dan telah memberikan kekuasaan untukmu di bumi. Berjalanlah padanya dan ajarilah orang yang bodoh serta kukuhkan orang yang berilmu”.” (hadist ini ada di dalam kitab fathul Bari karya Ibnu Hajar asqalani).
berdasar hadist ini, maka scr jelas dikatakan oleh Nabi Muhammad saw bahwa yang membina bandar Iskandaria adalah zulqarnain. dan fakta sejarah mengatakan yang membina bandar iskandaria adalah alexander the great itu. jadi berdasar ilmu logika/mantik maka dapat dibangun silogisme spt ini:
jika A = B dan B = C, maka A = C.
jadi
zulqarnain (A) = yang membina bandar iskandaria (B)
dan
Bandar iskandaria (B) = dibina oleh Alexander the Great (C)
maka logikanya adalah:
Zulqarnain (A) = Alexander the great (C), jadi antara zulqarnain dan alexander adalah orang yang sama (satu pribadi), yaitu yang membina bandar alexandria /iskandaria (sesuai dengan namanya). bukan dua orang figur yang berbeda.
coba anda bersikap kritis dan teliti sbgamna yang anda inginkan itu dan jangan meloncat-loncat. krn semua ini akan menjawab persoalan ada dari awal hingga akhir.
Yan
June 30th, 2010 at 6:10 PM
Sdr. Halim, setahu saya Ibnu Lahi’ah adalah seorang perawi yang lemah.
al-Bushiri mengatakan tentangnya, “Di dalam sanad hadits ini terdapat Ibnu Lahi’ah sedangkan dia adalah periwayat yang lemah.” (Mishbah az-Zujaj [1/352])
Syaikh Al Albani berkata: “Dia (Ibnu Lahi’ah) perawi lemah dari sisi hafalannya
Apakah ada hadist yang shahih atau minimal hasan?
halim
June 30th, 2010 at 7:01 PM
apakah setiap perawi yang lemah, maka pendapatnya lemah semua? ini hanya pendapat saja, dan orang lain juga boleh berpendapat hadist itu sahih berdasar matan (kandungan isi) nya.
hadist lemah itu tidak sampai masuk ke dalam hadist palsu. jadi hadist itu memang benar dari Nabi Muhammad saw. Hadist ini juga dipakai oleh ahli tafsir besar Imam Thabari dan Imam Qurthubi dalam tafsir beliau.
Yan
July 1st, 2010 at 8:55 AM
Sdr. Halim
Seorang Tabi’in yang bernama Muhammad bin Sirin (wafat tahun 110 H) rahimahullah berkata, “Mereka (yakni para ulama hadits) tadinya tidak menanyakan tentang sanad, tetapi tatkala terjadi fitnah, mereka berkata, ‘Sebutkan kepada kami nama rawi-rawimu, bila dilihat yang menyampaikannya Ahlus Sunnah, maka haditsnya diterima, tetapi bila yang menyampaikannya ahlul bid’ah, maka haditsnya ditolak.’”
Kemudian, semenjak itu para ulama meneliti setiap sanad yang sampai kepada mereka dan bila syarat-syarat hadits shahih dan hasan terpenuhi, maka mereka menerima hadits tersebut sebagai hujjah, dan bila syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka mereka menolaknya.
Abdullah bin al-Mubarak (wafat th. 181 H) rahimahullah berkata: “Sanad itu termasuk dari agama, kalau seandainya tidak ada sanad, maka orang akan berkata sekehendaknya apa yang ia inginkan”
Dalam hal ini saya lebih percaya Plutarch daripada Ibnu Lahi’ah, kenapa? alasannya sederhana saja, tidak usah pake rumus silogisme segala seperti yang anda sampaikan:
Plutarch mengetahui dengan benar bahwa Alexander adalah orang yang berasal dari Macedonia, sedangkan Ibnu Lahi’ah telah salah mengatakan bahwa Alexander berasal dari Romawi.
Dari alasan sederhana itu saja, saya bisa mengatakan bahwa hadist ini cacad.
halim
July 2nd, 2010 at 11:03 AM
sekali lagi sy bertanya, apakah hadist lemah itu berarti palsu?
anda sdr Yan mengatakan dgn mengutip pendapat ibnu sirin:
“…bila dilihat yang menyampaikannya Ahlus Sunnah, maka haditsnya diterima, tetapi bila yang menyampaikannya ahlul bid’ah, maka haditsnya ditolak.’”
saya bertanya kpd anda sdr Yan, apakah Ibnu Lahi’ah itu ahli bid’ah? shg hadist riwayat beliau tertolak?
anda sdr Yan juga berkata: “Dalam hal ini saya lebih percaya Plutarch daripada Ibnu Lahi’ah, kenapa? alasannya sederhana saja, tidak usah pake rumus silogisme segala seperti yang anda sampaikan.
Plutarch mengetahui dengan benar bahwa Alexander adalah orang yang berasal dari Macedonia, sedangkan Ibnu Lahi’ah telah salah mengatakan bahwa Alexander berasal dari Romawi.
saya jawab: yah….anda memang tidak mengenal kaidah ilmiah dalam menganaliss fakta, belajarlah metode penelitian ilmiah. anda juga tidak mengenal konteks sejarah. dan sering tidak memahami kontesk masalah.
Hadist ini dikatakan oleh Nabi MUhammad saw, dimana pada masa itu (abad 5-6), Macedonia masuk dalam jajahan romawi atau yang sering disebut oleh nabi sbg bani ashfar. jadi konteks romawi pada jaman nabi adalah termasuk macedonia, anatolia (turki modern), syam Syria, Mesir.
armenia.
jadi perkataan Nabi Muhammad bahwa Zulqarnain dari Rumawi adalah benar.
Yan
July 2nd, 2010 at 11:31 AM
Sdr. Halim
Saya merujuk pada:
“Kemudian, semenjak itu para ulama meneliti setiap sanad yang sampai kepada mereka dan bila syarat-syarat hadits shahih dan hasan terpenuhi, maka mereka menerima hadits tersebut sebagai hujjah, dan bila syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka mereka menolaknya.”
Anda tahu Hannibal dari Carthage (247-183SM)? sampai kiamatpun semua akan mengatakan bahwa Hannibal berasal dari Carthage meskipun sejak tahun 146SM Carthage jatuh ke tangan Romawi, begitu pula logikanya Alexander akan tetap berasal dari Macedonia karena sampai tahun 200an SM kekuasaan Romawi itu belum sampai ke Macedonia.
Selain itu, coba anda perhatikan penggalan hadist anda tersebut;
“…dan mendirikan kota Iskandaria (Alexander). Ketika selesai dia didatangi oleh malaikat lalu dinaikkan. Malaikat itu berkata, ”Lihatlah apa di bawahmu”. Dia berkata, ”Aku melihat satu kota”. Malaikat berkata, ”Itu adalah bumi seluruhnya,”
Apakah anda tidak melihat sesuatu yang lucu dalam dialog antara Alexander dengan malaikat? pada saat dinaikan dari kota Alexandria, alexander dengan benar mengatakan: “Aku melihat satu kota” tetapi apa kata malaikat: ”Itu adalah bumi seluruhnya”
Dalam hal ini sebenarnya anda tidak perlu menyuruh saya untuk belajar metode penelitian ilmiah, karena saya sudah lulus mata kuliah tersebut dengan nilai sangat memuaskan, lagian ini hanya masalah logika sederhana saja kan?
halim
July 2nd, 2010 at 8:53 PM
yah diskusi ini telah meleceng dari konteks awalnya.
pertanyaan saya di atas belum anda jawab:
“apakah Ibnu Lahi’ah itu ahli bid’ah? shg hadist riwayat beliau tertolak?”
begitu juga ketika saya berkata:
“Hadist ini dikatakan oleh Nabi MUhammad saw, dimana pada masa itu (abad 5-6), Macedonia masuk dalam jajahan romawi atau yang sering disebut oleh nabi sbg bani ashfar. jadi konteks romawi pada jaman nabi adalah termasuk macedonia, anatolia (turki modern), syam Syria, Mesir. armenia. jadi perkataan Nabi Muhammad bahwa Zulqarnain dari Rumawi adalah benar.Yan tidak mejwabnya.”
ini bermakna bhw orang arab jaman nabi Muhammad saw (abad 5-6 M) beranggapan bahwa yunani/greek termasuk makedonia adalah termasuk bangsa Rum (bani Asfar).
tepai anda sdr Yan menjawab tidak pada konteksnya.
Yan
July 5th, 2010 at 9:53 AM
Ya, banyak hadist ibnu lahi’ah yang bersifat bid’ah, anda bisa cek melalui google, lagian buat apa membahas hadist dhaif yang bisa menimbulkan fitnah sementara hadist shahih diabaikan (seperti yang anda lakukan selama ini).
Saya mau bertanya kepada anda, hadist yang benar itu dari Rasulullah SAW atas petunjuk Allah SWT didasarkaqn pada fakta atau atas anggapan orang Arab berdasarkan konteks yang mereka yakini?
halim
July 5th, 2010 at 9:28 PM
tentu hadis yang benar dari Rasulullah saw didasarkan pada fakta. Dan fakta sejarah pada masa Rasulullah saw (sekitar abad 5-6 M) daerah makedonia yunani adalah termasuk daerah rumawi. maka hadis itu menyebut: “zulqarnain berasal dari rum”. saya lebih mempercayai pendapat dari hadis ini dari pada pendapat anda. saya lebih percayaibnu lahi’ah dari pada anda.
Yan
July 6th, 2010 at 10:03 AM
itulah perbedaan anda dengan saya yang tidak akan sampai pada satu titik temu, saya hanya meyakini fakta sejarah yang diakui secara universal yang diperkuat oleh hadist shahih dan hasan dalam menilai keimanan alexander, sedangkan anda hanya meyakini hadist dhaif dan pendapat yang bisa mendukung keyakinan anda saja.
meskipun masih banyak pertanyaan saya yang belum anda jawab/klarifikasi namun saya berterimakasih atas sharing selama ini, semoga kita semua diberi petunjuk oleh Alah SWT untuk menemukan kebenaran yang hakiki dan islami dalam menemukan siapa sebenarnya tokoh Dzulqarnayn Qur’ani, Amin…